Visi Paroki Katedral Santa Maria Palembang

Komunitas Paroki Katedral St. Maria dibangun, sebagai komunitas beriman yang diwarnai semangat persaudaraan dalam terang kitab suci , merayakannya dalam ibadat dan mewujudkannya dalam kehidupan bersama dengan masyarakat dan dunianya.

Selasa, 15 November 2011

Kronologi Singkat Gereja Katedral Santa Maria


1921: Misi dilakukan oleh Kongregasi Kapusin
1923: -    Misi diambilalih oleh Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ)
-          Pos utama dan satu-satunya adalah Tanjungsakti
-          Di Palembang ada dua tempat yang dilayani dari Tanjungsakti [Talang Semut (high class/orang Belanda) dan Talang Jawa (Cina dan Jawa)]
      1925: Palembang diberi pastor tetap
      1932: Gereja Talang Jawa dibangun 
      1939: Prefectur Apostolik Bengkulu ditingkatkan menjadi Vicariat Palembang          dan prefectur-nya diangkat sebagai Vicariat Apostolik pertama dan ditahbiskan menjadi uskup oleh Paus Pius XII.
       1941: Paroki Talang Semut didirikan (4 Oktober 1941)
       1948: Pengesahan paroki (4 Maret 1948)
       1949: Pastor paroki pertama J. Kuypers, SCJ
       1954: 28 Maret ; peletakan batu pertama
                 8 Desember; peresmian oleh Mgr. H. M. Mekkelholt, SCJ.

Perkembangan Paroki Santa Maria


             Sampai saat ini telah banyak perubahan dan perkembangan terjadi di paroki St. Maria. Untuk bangunan sendiri telah dilakukan beberapa kali renovasi baik penggantian atap dan karpet, pengecatan-pengecatan ulang bangunan  maupun bangku, serta perbaikan instalasi listrik dan soundsystem. Semua dilakukan secara bertahap dengan tujuan agar gereja St. Maria menjani tempat yang semakin nyaman untuk beribadat.
            Selain perubahan pada bangunan gereja, ada juga perubahan berarti dalam kehidupan berparoki, yakni perpindahan pastoran ke rumah baru (semula menjadi satu dengan rumah keuskupan) yang berada tepat disamping gereja. Rumah pastoran tersebut diresmikan pada tanggal 16 Desember 1998 oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ. Hal lain yang perlu dicatat adalah perpindahan gua Maria dari belakang rumah keuskupan ke halaman belakang gereja dan telah diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2004 oleh Rm Ant. Yuswito, SCJ.

Bangunan Gereja Santa Maria


           Sesudah perang kemerdekaan semua tahanan Jepang oleh tentara Belanda di Sematera Selatan dibawa ke Palembang. Mereka dikumpulkan di dua tempat yaitu  RS Charitas dan Talang Semut. Dua tempat ini dipagari kawat berduri dan dijaga ketat oleh tentara Belanda. Selain di dua tempat ini, tempat-tempat lain tidak berfungsi. Setelah keadaan kembali normal dan aman, pada tahun 1947 Gereja Hati Kudus di Talang jawa dibuka kembali. Maka timbul pertanyaan, apakah dalam keadaan tersebut, Talang Jawa sebagai paroki harus dipertahankan atau dibubarkan dan apakah Palembang akan dibagi menjadi dua paroki?
            Pada akhirnya dalam rapat keuskupan tanggal 4 Maret 1948, diputuskan bahwa paroki Talang Semut tetap dipertahankan dan Palembang terbagi atas dua paroki. Tanggal 4 Maret 1948 ini merupakan tanggal peneguhan berdirinya paroki Santa Maria (bdk. Buku Petunjuk Gereja Indonesia tahun 1990, Paroki St Maria berdiri tgl 1 Oktober 1941). Dengan berdirinya paroki St. Maria ini, maka pastor  yang bertugas – P. G. Elling, SCJ – ditugaskan untuk mencari tempat ibadah yang layak. Maka rumah yang ada di Talang Semut diputuskan digunakan sebagai tempat ibadah. Selang beberapa waktu, tepatnya pada bulan Desember 1949, Pastor J. Kuypers, SCJ diangkat menjadi pastor paroki Talang Semut.
            Dengan berdirinya paroki Talang Semut, maka gerejapun dibangun. Pada tangal 28 Maret 1954, dengan dipimpin P. Van Gisbergen, dilakukan peletakan batu pertama bangunan gereja. Selanjutnya pembangunan gereja dilakukan oleh Biro Pembanguna Jelita, dengan arsitektur rancangan G. Langenberg dari Sungai Gerong. Pada waktu itu pastor kepala yag bertugas adalah P. J. Kuypers SCJ. Dan dalam masa kepemimpinannya ditentukan bahwa pelindung paroki adalah St. Maria Dikandung Tak Bernoda dan Gereja yang dibangun dinamai Gereka Roh Kudus. Namun dengan alasan bahwa tahun 1954 adalah ulang tahun yang ke 100 atas kebenaran iman yang diakui sebagai ajaran gereja, maka nama Gereja diganti menjadi Gereja St. Perawan Maria Dikandung Tak Bernoda. Setelah pembangunan selesai tepatnya tgl 8 Desember 1954 gereja diresmikan dan diberkati oleh Mgr. H.M. Mekkelholt, SCJ.

Istilah Katedral dan Artinya


Katedral yang berasal dari bahasa Latin cathedra atau bahasa Yunani Kathedra yang berarti tahta atau kursi, dan dalam tradisi gerejani dikaitkan dengan kuasa atau simbol utama dari suatu kuasa. Katedral adalah Kursi Resmi atau Tahta di dalam Gereja yang merupakan simbol kehadiran uskup di tengah umat, kuasa uskup dalam memimpin, mengajar dan membimbing umat yang dipercayakan kepadanya.
Gereja Santa Maria ditetapkan sebagai Gereja Katedral karena menjadi gereja dimana bapa uskup tinggal atau berada. Dengan demikian Gereja Katedral Santa Maria menjadi ibu atau induk dari gereja-gereja yang ada diseluruh keuskupan Agung Palembang yang dipimpin oleh uskup, baik yang sudah dibangun maupun yang akan dibangun kemudian. Bahkan Gereja Katedral Santa Maria menjadi bagian dari hidup, iman dan ibadat umat paroki dan seluruh umat keuskupan Agung Palembang. Gereja Katedral Santa Maria merupakan pusat kehidupan dan doa gereja lokal sekaligus tanda dan simbol dari harapan paling dalam dari seluruh umat keuskupan Agung Palembang yang sedang mengarahkan hidup menuju Yerusalem Sorgawi.
Gereja Katedral Santa Maria dipersembahkan kepada Bunda Maria sebagai pelindungnya. Maria adalah orang Kristen yang sempurna. Keibuan rohaninya atas semua umat kristiani tercermin dalam seluruh relasinya dengan gereja dan dunia, dan usahanya menjadikan umat menjadi keluarga penuh kasih berkat kesatuannya dengan Yesus Kristus. Nama Maria dipilih sebagai pelindung gereja katedral karena mempunyai makna yang dalam. Maria yang telah dipilih Allah dan diserahkan kepada para murid juga diserahkan kepada kita sebagai ibu oleh Yesus dari atas salib di puncak Golgota dengan berkata,” Inilah Ibumu
Sumber : Sekretariat DPP Katedral Santa Maria Palembang

Rabu, 02 November 2011

Data dan Perkembangan Wilayah




Ada perubahan dalam organisme gereja paroki Katedral St. Maria sendiri, terutama pada akhir tahun 2004 antara lain adalah pergantian nama dari kring menjadi lingkungan, pembentukan wilayah sebagai kesatuan beberapa lingkungan yang berdekatan. Pula pembentukan lingkungan baru sebagai pemekaran dari lingkungan Yakobus yaitu lingkungan Gregorius Agung. Oleh karena itu sampai pada saat ini paroki St. Maria Katedral terdiri dari 5 wilayah dan 17 lingkungan dengan pembagian sbb:

a. Wilayah I, meliputi:
    • Lingkungan Simon
    • Lingkungan Matheus
    • Lingkungan Thomas
    • Lingkungan Petrus
b.Wilayah II, meliputi:
·         Lingkungan  Yakobus
·         Lingkungan Gregorius Agung
·         Lingkungan Antonius Bariton
c.  Wilayah III, meliputi:
·         Lingkungan Yohanes De Britto
·         Lingkungan Yohanes Don Bosco
·         Lingkungan Yohanes Pemandi
d.  Wilayah IV, meliputi:
·         Lingkungan Yosafat Sudarso
·         Lingkungan Yudas Tadeus
·         Lingkungan Paulus
·         Lingkungan Anna Theresia
e.  Wilayah V, meliputi:
·         Lingkungan Yohanes Paulus 1
·         Lingkungan Policarpus
·         Lingkungan Andreas

Para Imam yang Pernah Berkarya di Paroki Katedral Santa Maria


  

Selama kurun waktu 66 tahun berdirinya paroki Katedral St. Maria sudah 28 imam, yang pernah berkarya di paroki ini, dengan 17 diantaranya pernah menjadi pastor paroki. Persis datanya adalah sebagai berikut:
No
Nama
Jabatan
Masa Tugas
01
P.A. Coenderman SCJ
Pastor Paroki
05/1949 s.d. 01/1952
02
P. J. Kuypers SCJ
Pastor Paroki
02/1952 s.d. 01/1955
03
P. J.H. Soudant SCJ
Pastor
1953 s.d. 1956
04
P. G. Elling SCJ
Pastor Paroki
02/1955 s.d. 10/1957
05
P. P. Milderdop SCJ
Pastor
10/1956 s.d. 03/1957
06
P. J. Boonen SCJ
Pastor Paroki
10/1957 s.d. 10/1959
07
P. Jan Vranken  SCJ
Pastor
s.d.
08
P.  M. Nielen SCJ
Pastor Paroki
Pastor Paroki
Pastor
1946 s.d. 1947
1959 s.d. 1964
1966 s.d. 1969
09
P. R. Van Leeuwen SCJ
Pastor
1959 s.d.
10
P. Thomas Fix SCJ
Pastor
1961 s.d.
11
P. J. Goeman SCJ
Pastor Paroki
11/1964 s.d. 01/1970
12
P. AJ. Bontje SCJ
Pastor
1964 s.d.
13
P. J. Van Kampen SCJ
Pastor
05/1964 s.d. 06/1966
14
P. Nico v. Steeklenberg SCJ
Pastor
1967 s.d. 1969
15
P. Stevan Leks SCJ
Pastor Paroki
03/1070 s.d. 05/1975
16
P. P. Abdi SCJ
Pastor Paroki
05/1975 s.d. 05/1978
17
P. Y. Adi Swarman SCJ
Pastor Paroki
12/1978 s.d. 12/1983
18
P. Titus Purbo Suparta SCJ
Pastor Paroki
02/1985 s.d. 09/1985
19
P. Kees van Passen SCJ
Pastor Paroki
09/1985 s.d. 07/1988
20
P. Jaya Pr
Pastor Paroki
s.d.
21
P. M.J. Weusten SCJ
Pastor Paroki
07/1988 s.d. 1996
22
P. B. Clement W. Wuwur Pr
Pastor
1991
23
P. Agustinus Sumaryono Pr
Pastor
1992
24
P. Agung Sulistiyo Pr
Pastor
1995 s.d. 1996
25
P. Ign. Bambang Al. Pr
Pastor
Pastor Paroki
1988 s.d. 1990
1996 s.d. 1999
26
P. Yustinus Slamet A. Pr
Pastor
1997 s.d. 1999
27
P. Yohanes Kristianto Pr
Pastor Paroki
1/8/1999 s.d. 30/1/2005
28
P. Martinus Priyo K. Pr
Pastor
2002 s.d. sekarang
29
P. Silvester Jaka Susanta Pr
Pastor Paroki
30/1/2005 s.d. 5/8/2006
30
P. Vinsensius Setiawan T. Pr
Pastor Paroki
5/8/2006 s.d. 20/1/2008
31
P. Pankrasius RB, Pr
Pastor paroki
5/1/2008 s.d